Selasa, 07 Desember 2010

Wings

Sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak Stefani kalau sekarang dirinya menjadi seorang pilot pesawat tempur. Sejak kecil, dia bercita-cita ingin menjadi seorang arsitek. Dua profesi yang sungguh sangat berbeda. Walaupun begitu, Stefani begitu menikmati pekerjaannya sebagai seorang pilot tempur. Ia sangat menikmati pekerjaannya yang penuh tantangan dan bahaya itu, bahkan penerbangan perdananya membuat dirinya ketagihan. "Gila! Asyik banget," teriaknya di dalam pesawat tempurnya. Ia melewati awan-awan dan melintasi gunung-gunung tinggi yang menjulang ke angkasa. Stefani begitu lihai membawa pesawat tempurnya. Begitu pesawat itu mendarat, Stefani langsung mengeluh. "Sialan, dah capek-capek ngantri hanya lima menit merasakannya. Lain kali kalau ke Dufan jangan hari libur ah, biar bisa merasakan permainan wings sepuasnya," ucapnya sambil berjalan menuju pintu keluar.

Kamis, 23 September 2010

Permen Berjalan

Beberapa menit yang lalu, Karen mendapat telepon dari seseorang yang mengatakan kalau kekasihnya mengalami kecelakaan. Betapa terkejut dirinya. Dari nada bicara & sederet pertanyaan-pertanyaan yang diajukan olehnya kalau Karen begitu panik. Tanpa berpikir lagi, Karen langsung menuju ke rumah sakit di mana keksihnya tergolek tak berdaya. Semua aktivitas dirinya langsung ditinggalkan begitu saja olehnya. Sesampainya di rumah sakit, dia bertemu dengan orang-orang yang memandanginya dengan senyuman. Kenal pun tidak, hal itulah yang membuat Karen menjadi heran. Karena rasa panik masih menguasai dirinya, hal itu tidak dipedulikan olehnya. Pikirannya hanya terpusat kepada kekasihnya. Seseorang yang tidak begitu jauh darinya melambaikan tangan pada dirinya dan Karen langsung mengenali orang itu. "Bagaimana keadaan Imsak? Dia di mana sekarang?" tanya Karen dengan dengan panik. "Tenang saja kamu jangan panik, dia hanya luja ringan kok," ucap lawan bicaranya. Walaupun sedikit lega, Karen tetap saja belum bisa melepaskan rasa cemas di hatinya. Wajahnya masih terlihat pucat. Dia menunggu dengan gelisah sambil berjalan bolak-balik tak karuan di depan ruang di mana kekasihnya berada. Tiba-tiba sahabat kekasihnya pun tersenyum begitu saja begitu dirinya melihat ke arah kaki Karen. Sambil mendekat ke arah Karen, orang itu bicara pada Karen sepelan-pelannya seolah-olah jangan sampai orang lain tahu. "Ternyata ada permen berjalan juga ya di rumah sakit ini, tengok ke arah kaki," ucapnya sambil tersenyum. Karen pun dengan reflek langsung melihat ke arah kakinya. "Astaga! Sandalku!" ucapnya. Kaki kiri menggunakan sandal japit berwarna merah, sedangkan kaki yang satunya lagi memakai sandal berwarna biru. "Orang akan mengiramu akan pergi ke pasar," ledek orang yang berada di sebelahnya yang tak lain adalah sahabat kekasihnya.

Rabu, 25 Agustus 2010

Mahasiswa Abadi Mata Kuliah Matematika

Karena tidak lulus mata kuliah Matematika, Angki terpaksa mengulang mata kuliah tersebut. Angki paling tidak suka dan tidak bisa dengan Matematika. Otaknya berasa macet bila menghadapi mata kuliah tersebut. Suka ataupun tidak, dia harus mengulang mata kuliah tersebut. Karena nilai Matematika II yang tidak lulus, maka pada semester genap ini dia menyantumkan mata kuliah tersebut dalam KRS-nya. Waktu berjalan begitu cepat, tidak berasa lagi, Angki harus menghadapi UAS. Karena dia merasa tidak mampu untuk menghadapi soal ujian Matematika, dia akhirnya menyewa temannya yang jago Matematika untuk menjadi joki atas dirinya. Temannya pun menyanggupinya. Menurut jadwal, mata kuliah Matematika akan diujikan besok. Angki terlihat sangat tenang dan santai di dalam kosnya malam itu. Dia bersiul-siul tanpa mempunyai rasa beban sedikit pun. Walaupun sudah ada temannya yang mau jadi joki atas namanya, Angki tetap datang ke kampusnya. Di depan perpustakaan jurusan, dia bertemu dengan dosennya. Angki dengan pede menyapa dosennya seolah-olah dia ingin meyakinkan dosennya kalau dia telah hadir di ujian mata kuliah Matematika. "Pagi Pak," sapanya sambil menyalaminya. "Pagi Ki. Gimana ujiannya tadi?" tanya dosennya. "Alhamdulillah bisa Pak," jawabnya dengan tegas dan meyakinkan. "Syukurlah, bagus kalau begitu. Saya tidak mau bertemu Anda lagi pada mata kuliah yang sama, tapi dalam kesempatan yang lain yang lebih menuenangkan, bukan antara dosen dengan mahasiswanya," ucapnya sambil menepuk bahu Angki sambil melangkah pergi. "Terima kasih Pak," ucap Angki. Begitu selesai bersua dengan dosennya, Angki menghampiri seorang temannya yang kebetulan mengulang mata kuliah Matematika. "Astrid lihat Ramadhan gak?" tanyanya. "Gak tahu," jawab temannya singkat. "Lho, tapi dia ikut ujian Matematika kan?" tanyanya lagi. "Sepertinya gak ada tuh dan memang dia gak ngulang deh. Lho, harusnya kan kamu..." ucapnya. Belum sempat temannya menyelesaikan kalimatnya, Angki langsung memotong pembicaraan "Aku cabut dulu," ucapnya. Dia langsung menuju kos Ramadhan. Betapa kagetnya Angki saat melihat Ramadhan yang masih tertidur. "Lho, dia kok..." ucap Angki. "Dia baru aja bisa tidur. Sejak kemarin, dia bolak-balik terus ke belakang. Dia kena diare," ucap salah satu teman kos Ramadhan. Akhirnya Angki pun duduk lemas di lantai sambil menatap temannya. "Apes," ucapnya lirih.

Sabtu, 17 Juli 2010

Sesuatu yang Disayangkan

Rumah makan minang menjadi tujuan makan siang Jesika dan Mongga. Sambil menunggu pesanannya datang, Mongga melihat-lihat sekeliling tempat makan itu. Tiba-tiba pandangannya berhenti begitu melihat seorang laki-laki tampan yang sedang duduk seorang diri. Laki-laki itu terlihat sangat tenang. "Jes, coba deh kamu lihat ke cowok yang duduk di bangku paling sudut itu. Dia cakep banget kan?" ucap Mongga meminta persetujuan temannya. "Mana sih?" tanya Jesika sambil mencari-cari seseorang yang dimaksud temannya. "Aduh, jangan keras-keras dong nanti dia dengar lagi," ucap Mongga. "Oh, yang itu ya. Busyet, itu sih cakep banget," ucap Jesika. "Menurutmu, dia udah punya pacar belum ya?" tanya Jesika. "Orang secakep dia pastinya sudah punya pacar," ucap Mongga lagi. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mendekati laki-laki tampan itu. "Aduh, sayang maaf banget ya aku telat. Kamu pasti sudah menunggu lama ya di sini," ucap laki-laki yang baru saja datang sambil mengecup lawan bicaranya. Kedua laki-laki itu duduk saling berhadapan sambil berpegangan tangan. Kedua laki-laki itu terlihat begitu mesra. Melihat pemandangan seperti itu, Jesika dan Mongga saling berpandangan. Keduanya serempak mengatakan, "Cape deeeeeeh...." Disusul tawa mereka yang meledak.

Sabtu, 05 Juni 2010

PILIHAN TERBAIK

Dua puluh lima tahun yang lalu, Hanif dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Pilihan yang menguras pikirannya, pilihan penting karena menyangkut masa depannya. Pilihan yang harus dia perjuangkan. Hanif dihadapkan pada pilihan antara harus memilih orang yang sangat mencintainya dengan tulus atau orang yang sangat dia cintai. Namun, orang yang dia cintai tidak memiliki cinta yang tulus. Dengan berjuang melawan hatinya, Hanif akhirnya memilih seseorang yang sangat mencintainya dengan tulus. Dan kini, dia sama sekali tidak pernah menyesali atas pilihannya itu. Bahkan sekarang, Hanif begitu mensyukurinya. Kini hidupnya sangat bahagia dengan orang yang dulu hingga saat ini begitu mencintai dirinya. Hanif pun kini bisa mencintai orang yang sejak dua puluh lima tahun lalu mendampinginya.

Rabu, 12 Mei 2010

MANTAN PACAR

Sudah satu tahun yang lalu, Manda putus dengan Yunaz, pacarnya. "Jadi, kamu sudah putus dengan pacarmu yang belagu itu. Siapa tuh namanya?" tanya Ceryl. "Yunaz," jawab Manda sambil mengangguk lesu. "Coba deh dari dulu, kamu turuti perkataanku untuk jadian dengan sepupuku, Angki. Kejadian seperti ini gak bakal terjadi deh. Sepupuku itu pasti akan menjagamu dangan baik. Dia itu laki-laki yang bertanggung jawab, dan terpenting gak nyakiti kamu dengan selingkuh dengan cewek lain seperti yang dilakukan Yunaz. Pokoknya beda jauh deh dengan mantan pacarmu itu," ucap Ceryl. "Tapi walaupun begitu, aku cinta dia, Cer," ucap Manda. "Dasar manusia bodoh mau-maunya mencintai orang seperti itu. Pintar gak, baik jauh dari jangkauannya, hanya belagu yang dia agung-agungkan," ucap Ceryl kesal. "Udah, lupain dia. Mending sekarang kamu jadian aja dengan sepupuku, Angki. Nanti malam, aku akan memperkenalkan kamu dengannya. Kamu mau ya?" tanya Ceryl. Awalnya, Manda menolaknya, tapi pada akhirnya menerima tawaran temannya. Malam itu Ceryl mengajak Manda ke sebuah Kafe untuk menemui Angki yang akan dijodohkan pada teman baiknya. Lima belas menit sudah, Ceryl dan Manda menunggu. Tiba-tiba Ceryl tersenyum sambil melambaikan tangannya pada seseorang. "Nah, itu Angki datang," ucap Ceryl. Manda langsung menengok pada orang yang dimaksud oleh Ceryl yang tidak lain adalah Yunaz sambil tangannya menggenggam erat tangan Ceryl. Wajah Manda mendadak pucat. Itulah dunia yang sesungguhnya, yaitu tidak seluas seperti yang kita bayangkan.

Sabtu, 01 Mei 2010

CINTA SEJATI

"Apa yang harus aku lakukan agar bisa membahagiakanmu? Apakah aku akan merubah kepribadianku menjadi seorang pribadi yang kamu sukai?" tanya Andrea pada Ikang. "Itu tak perlu kamu lakukan. Jadilah dirimu sendiri dan tunjukkan segala keunikan yang ada pada dirimu. Aku hanya meminta satu saja darimu?" ucap Ikang. "Katakanlah," ucap Andrea sambil memandang kekasihnya. "Berikanlah cintamu hanya padaku seorang," pintanya. Andrea pun tersenyum manis pada Ikang.